LILIN SEBELUM PULANG
Hari sudah sore, senja pun tiba. Tapi indahnya panorama sunset, tidak dapat aku lihat. Karena mentari sudah bersembunyi lebih awal di balik awan yang gelap. Rintik hujan yang deras terlihat enggan untuk berhenti, seperti aku yang masih ingin bersama nenek, kakak dan kakek. Singkat cerita satu malam sebelum aku pulang karena masa liburan sekolahku sudah habis. Waktu itu setelah melaksanakan shalat isya berdua.
Lala : Kak.
Kakak : apa La?
Lala : kesini lagi ya.
Kakak : oke.
Kakak : apa La?
Lala : kesini lagi ya.
Kakak : oke.
Sesudah mengganti baju dan menaruh sarungnya kakak kembali ke kamarku. Karena gemuruh petir terus terdengar, nenek melarang kami menyalakan televisi. Sehingga kami hanya berbaring berdua di tempat tidur. Kalau dulu aku memang kadang suka tidur satu tempat tidur, usia aku juga masih kelas 2 SMP dan dia baru kelas 1 SMA. Seharusnya sih waktu itu aku kelas 3 SMP, tapi aku pernah tinggal kelas sewaktu SD.
Lala : padahal aku masih ingin disini kak, tapi besok aku harus pulang.
Kakak : kalau ada waktu kakak main kerumah kamu kok.
Lala : benar ya.
Kakak : iya.
Kakak : kalau ada waktu kakak main kerumah kamu kok.
Lala : benar ya.
Kakak : iya.
Tiba tiba saja lampu di kamarku mati (padam listrik).
Kakak : bentar ya La, kakak mau ambil lilin.
Lala : iya kak.
Lala : iya kak.
Karena gelap dia bangun dan keluar dari kamar secara perlahan sambil meraba-raba. Tidak berapa lama dia kembali dengan membawa satu buah lampu lilin. Setelah menaruh lilin di atas meja dia langsung bergegas kembali keluar dan menutup pintu kamar. Tadinya aku heran sama kakak, tapi aku pikir mungkin dia haus lalu buru-buru keluar buat ambil minum. Setelah itu kemudian dia kembali lagi dengan membawa satu buah lampu lilin lagi.
Kakak : La, kamu dapat lilin dari mana?
Lala : itu kakak ngapain bawa lilin lagi?
Lala : itu kakak ngapain bawa lilin lagi?
Sejenak kami saling bertatapan dengan terheran-heran. Sepertinya kakak ini lupa deh. Ucapku dalam hati.
Lala : taruh saja kak, kalau yang itu habis kan masih ada.
Kakak : iya.
Kakak : iya.
Setelah kakak meniup lilin yang ada di pegangan tangannya. Dia kembali ke tempat tidur dan berbaring di sampingku. Dalam hujan deras dengan hanya penerangan satu buah lampu lilin. Aku masih merasa kedinginan. Padahal aku sudah bersembunyi di balik selimut yang lumayan tebal dan lembut.
Lala : dingin banget ya kak.
Kakak : iya La dingin banget.
Kakak : iya La dingin banget.
Tanpa ada apapun tiba-tiba saja lilin yang ada di kamarku padam sendiri. Ruang kamarku seketika menjadi gelap. Rasa takut mulai mengguyur pikiranku dengan hal-hal yang sangat tidak aku inginkan. Hingga perasaan takutku menjadi teramat dalam, ketika cahaya kilat dengan sekejap menerangi kegelapan kamarku, lalu di sahut oleh suara gemuruh petir yang menyentak. Karena kaget aku langsung memeluk kakakku.
Lala : Kak aku takut banget. Ucapku dengan penuh rasa takut.
Tapi dia tidak menjawab dan hanya berdiam diri. Karena posisi pipiku tersandar di sebelah dadanya, jadi aku bisa merasakan debar jantungnya yang ternyata dia pun lagi ketakutan. Pikiranku sudah tidak tahu kemana, rasanya ingin menangis. Pegangan tanganku juga semakin erat memegang bajunya dan menahannya untuk tidak pergi. Ada rasa nyaman yang membuat aku tidak ingin beranjak. Di dalam ruang kamar yang gelap dan hujan yang tidak kunjung berhenti aku pun tertidur bersama orang yang sama penakutnya denganku. Setelah melewati malam pagi pun tiba.
Lala : Kak.
Kakak : iya, kenapa La?
Lala : semalam kan lilinnya ada dua?
Kakak : iya, kenapa La?
Lala : semalam kan lilinnya ada dua?
Aku sangat bingung, di atas meja hanya ada satu lilin yang tergeletak. Sementara lilin yang semalam menyala lalu padam sendiri, sudah hilang tanpa bekas sedikit pun.
CeritaHantu.com
Tegang njer bacanya
BalasHapussipp
BalasHapusnice
BalasHapuswweeewww
BalasHapussipsipsip
BalasHapusyyyy
BalasHapuswejyan
BalasHapusniceee
BalasHapusdaebak
BalasHapusoooooo
BalasHapus